Indonesia Menuju Kebangkitan Hakiki

Keberhasilan suatu negara biasa diukur dari sejauh mana tingkat keberhasilannya dalam mengatur kehidupan rakyatnya dalam berbagai bidang. Bidang-bidang tersebut antara lain Politik, Ekonomi, Hukum dan Peradilan, Pendidikan, Kesehatan, Sosial-Budaya dan Pertahanan-Keamanan.

Keberhasilan politik, misalnya diukur dari tingkat partisipasi publik dalam wilayah politik, adanya jaminan mengemukakan pendapat, berkumpul dan berserikat. Keberhasilan ekonomi misalnya diukur dari tingkat kesejahteraan masyarakat dan rendahnya tingkat pengangguran. Atau dengan adanya jaminan dan kebebasan dalam aktifitas perekonomian bagi setiap warga negara. Keberhasilan Hukum dan Peradilan misalnya diukur dari tingginya komitmen negara dalam rangka menegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu, mudahnya mendapatkan keadilan dan terselesaikannya semua proses hukum. Keberhasilan dibidang Pendidikan dapat diukur melalui misalnya dengan rendahnya angka buta huruf, rasio guru dan murid, mudahnya mendapatkan akses pendidikan dan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas.

Keberhasilan suatu negara di bidang Kesehatan dapat diukur misalnya dari mudahnya mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan, rendahnya angka kematian ibu dan bayi, dan kualitas pelayanan kesehatan yang memadai. Keberhasilan di bidang Sosial-Budaya bisa diukur misalnya melalui tingginya budi pekerti dan akhlak masyarakat dalam hal kejujuran, amanah, taat hukum dll., rendahnya angka perceraian, aborsi, ketimpangan sosial dan terhindar dari budaya hedonisme (serba bebas) tanpa batasan yang jelas. Keberhasilan di bidang Pertahanan-Keamanan misalnya dapat diukur melalui rendahnya angka kriminalitas, terjaminnya keaman masyarakat, rasio polisi dan jumlah penduduk, kemampuan pertahanan militer yang mumpuni, penguasaan teknologi militer terkini dan independen dari pengaruh negara lain.

Sebagai salah satu kiblat politik dan ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) senantiasa dikaitkan dengan kebangkitan suatu Bangsa. AS sering di elu-elukan para pemujanya ketika berbicara dan mengambil contoh mengenai bagaimana idealnya menjalankan roda pemerintahan sebuah Negara. Namun saat ini AS menjadi perhatian banyak pihak bukan karena kedigdayaanya, namun karena masalah ekonomi yang dihadapinya yang sampai-sampai membuat negara adikuasa ini mabuk dan terhuyung-huyung. Saat ini perekonomian AS memang sedang mengalami masalah yang cukup serius. Bahkan, banyak analis yang berpendapat bahwa masalah ini dapat mengakibatkan krisis, yang kalaupun krisis tersebut pulih, ekonomi AS tidak akan sedigdaya sebelumnya.

Prinsip ekonomi AS dibangun atas dasar prinsip Kapitalisme, yakni produksi dan sistem finansial/keuangan. Dari sisi produksi, para ekonom melihat saat ini, praktis tidak ada gairah yang signifikan dalam peningkatan produktifitas di Amerika. Basis industri dan manufaktur/pabrikasi, sebagian besar sudah berpindah ke negara lain melalui sistem outsourcing (penyerahan pekerjaan pada pihak ketiga), terutama ke negara-negara berupah buruh murah atau berbasis biaya produksi murah, seperti China dan India. Di berbagai bidang industri, AS bukan satu-satunya pemain yang dominan, AS kini disalip oleh negara maju lain, seperti Jepang, dan kemudian diprediksi negara-negara industri baru, seperti Korea, Taiwan, bahkan China dan India. Nilai impor AS rata-rata tiga kali lipat ekspor-nya. Umumnya produk-produk yang diimpor adalah produk murah dari China. Akibat stagnanasi produksi ini, struktur perekonomian semakin bergantung pada sektor jasa yang menyumbang 84 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari sisi sistem keuangan, kinerja keuangan AS juga tidak baik. Bank Sentral (Fed) yang selama ini bertugas menyelamatkan resesi demi resesi keuangan di Amerika melalui “jurus” pemberian pinjaman kredit murah kepada masyarakat yang diambil dari penjualan obligasi dan surat-surat utang lainnya baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah maupun swasta kini tidak lagi ampuh. Idealnya, dengan kredit murah tersebut, masyarakat yang pendapatannya tidak naik, tetap bisa meminjam dana dalam jumlah besar ke bank dengan bunga relatif rendah untuk membeli rumah atau mengambil kredit beragunan rumah (mortgage) untuk membayar tagihan kartu kredit, membayar tagihan, renovasi, membiayai uang kuliah bagi anak-anaknya, membeli mobil baru, dan sebagainya. Akibatnya, perekonomian pun bergerak, keuntungan perusahaan dan harga-harga aset melonjak. Namun kenyataannya, saat ini jurus tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah kredit macet yang sedemikian besar. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa bila digabung dengan kredit kategori lain dan sekuritas di AS yang terkait dengan real estat komersial, pasar kredit konsumen dan korporasi, maka potensi kerugian secara keseluruhan akibat krisis kredit perumahan di AS sekitar US$ 945 miliar. Keuangan AS juga di bebani dengan semakin besarnya defisit anggaran Negara Federal dan utang Nasional yang membengkak. Bahkan, hampir separuh dari total utang pemerintah AS yang mendekati 9 trilliun dollar AS adalah utang luar negeri. Demikian juga nasib mata uang AS, yakni Dollar AS, tak luput dari hantaman krisis. Dolar AS semakin mengalami depresiasi terhadap mata uang kuat lainnya, terutama Euro, yang membuat mata uang Dollar semakin kehilangan pamornya di dunia internasional. Beberapa negara kini telah mengalihkan cadangan devisanya dari Dollar AS ke mata uang kuat lainnya seperti Euro. Beberapa negara seperti Malaysia dan Iran telah menyepakati penggunaan dinar (mata uang emas) dalam perdagangan luar negerinya.

Kondisi Ekonomi AS yang terpuruk saat ini menyisakan masalah sosial yang alot. Angka pengangguran tertinggi sepanjang sejarah. 50 juta warga AS tidak memiliki asuransi kesehatan dan 250 juta lainnya yang memiliki asuransi kesehatan tidak mendapatkan kemudahan klaim yang dijanjikan. Dengan prinsip kapitalis “tidak ada makan siang yang gratis”, bisa di bayangkan nasib 50 juta orang yang tidak memiliki asuransi. Kesenjangan pendapatan semakin melebar, angka kehilangan pekerjaan dan kebangkrutan individu yang mencapai rekor akibat mahalnya biaya kesehatan, pendidikan dan berpindahnya lapangan kerja sektor manufaktur/pabrikasi dan berupah tinggi ke negara lain. Angka kemiskinan meningkat dan kualitas pelayanan sosial memburuk. AS adalah satu-satunya Negara di Dunia yang belum meratifikasi Protokol Kyoto. Bukti minimnya komitmen negara itu terhadap isu-isu lingkungan hidup dan masalah pemanasan global.

Untuk keluar dari krisis ini, AS akan semakin menancapkan kuku-kuku tajamnya ke negara-negara jajahannya, untuk dapat menghisap lebih banyak lagi sumber-sumber komoditas ekonomi. Dan tidak menutup kemungkinan juga, dengan dalih memerangi rezim yang otoriter yang melindungi teroris atau mengembangkan senjata pemusnah masal, pemerintah AS akan mengambil jalan pintas untuk keluar dari krisis ekonominya dengan melakukan invasi terhadap negara lain. Perang Afganistan dan Irak misalnya, terbukti lebih bermotif ekonomi dan penguasaan sumber daya alam daripada sekedar memerangi “teroris”.

Melihat kenyataan diatas, Indonesia saat ini dihadapkan pada dua pilihan, merevolusi sistem politik dan ekonomi atau ikut tenggelam dalam keterpurukan, bahkan terus menjadi sapi perahan AS dan negara-negara kapitalis lainnya. Pemerintah dan rakyat Indonesia, menurut Haris Rusli Moti, Sekjen Badan Pekerja Dewan Ketahanan Ekonomi Bangsa (Wantambang) boleh memilih, yaitu runtuh dan tenggelam bersama keruntuhan imperialisme Amerika atau bangkit dan keluar dari krisis dengan membangun kedaulatan ekonomi dan politik yang mandiri. (4/4/2008).

Sistem ekonomi AS yang dibangun atas dasar ideologi sekulerisme-kapitalis itu terbukti makin tidak mampu membawa keadilan dan rahmat kepada seluruh manusia. Bahkan hanya akan menenggelamkan kita dalam keterpurukan. Membangun kedaulatan ekonomi dan kemandirian politik adalah solusinya. Kedaulatan ekonomi dan kemandirian politik hanya akan tercapai dengan menghentikan semua praktek-praktek sistem ekonomi kapitalis di negeri ini. Fokus pada pengembangan ketahanan pangan, industri dalam negeri dan melepaskan segala ketergantungan kepada AS. Kesejahteraan masyarakat kemudian bisa di wujudkan dengan menerapkan sistem ekonomi syariah, yang berbasis pada pengembangan ekonomi sektor riil, distribusi kekayaan (wealth) yang merata dan jaminan kesehatan serta pendidikan yang gratis, dengan mengembalikan fungsi pendanaannya kepada Negara.

Namun patut disadari bahwa persoalan kebangkitan ini bukan hanya sekedar penyelesaian masalah ekonomi. Lebih dari itu, persoalan kebangkitan sangat erat kaitannya dengan masalah ideologi. Yakni bagaimana kita memaknai hakikat kehidupan ini, dari mana kita berasal, untuk apa kita ada dan diciptakan, serta kemana kita menuju setelah kehidupan di dunia ini berakhir.

Sebagai hamba Allah, sudah barang tentu tujuan hidup kita adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Pengabdian tersebut di tempuh melalui penerapan seluruh aturan-Nya baik dalam kehidupan peribadatan ritual, maupun mu’ammalah yang menyangkut pengaturan interaksi masyarakat. Dengan demikian kehidupan seperti ini akan sejalan dengan tujuan keberadaan manusia di dunia, memperoleh ridho-Nya dan mereguk segala kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inilah kebangkitan manusia yang hakiki.

Dahulu kebangkitan AS didasari dengan kebangkitan ideologi Kapitalismenya. Dalam beberapa dasawarsa pasca perang dunia ke II, AS berhasil bangkit dan memimpin dunia. Merekapun senantiasa menyebarkan ideologinya ke seluruh penjuru dunia melalui liberalisme ekonomi, demokrasi dan HAM. Namun kini, semua orang bisa melihat akibat buruk dari ideologi ini, mulai dari ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, kehidupan sosial yang jauh dari nilai-nilai agama, kerusakan lingkungan dan masih banyak lagi. Kehidupan dengan warna kapitalsime seperti sekarang ini juga tidak mampu memberikan ketenangan lahir batin kepada masyarakat, apalagi menjamin keselamatan dunia akhirat. Untuk itu, sudah waktunya bagi kita semua untuk menggalang perubahan. Perubahan yang di awali dengan memupuk kesadaran pemikiran. Ketika saatnya nanti kesadaran pemikiran di masyarakat sudah mengkristal, dan gelora perubahan telah membahana, maka Saatnya Khilafah Memimpin Dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: