Repleksi Ideologi Indonesia dan Kebangkitan

Mari kita mulai melangkah ke depan dengan satu kesamaan. Kesamaan bahwa kita sama-sama menginginkan ke-BANGKIT-an untuk negara ini. Dan dari kebangkitan itulah terjadi perubahan.

Maksudnya begini, sudah sama-sama kita ketahui bahwa manusia bisa dikatakan bangkit manakala taraf pemikirannya meningkat. Taraf pemikiran meningkat tatkala manusia menggunakan akalnya untuk mengamati keberadaan dirinya, alam semesta dan kehidupan ini dan mengkaitkannya dengan kehidupan sebelum dunia, di dunia dan setelah dunia. Sehingga tercipta suatu pemahaman yang menyeluruh tentang dirinya (manusia), alam semesta dan kehidupan. Pada tahap ini manusia sudah selangkah maju dan bangkit sebagai manusia yang memiliki tujuan hidup yang pasti. Itulah teori umum tentang kebangkitan manusia yang bisa dihubungkan dengan ideologi apapun.

Tetapi, bagaimana jika ada orang yang mengatakan kebangkitan diartikan sebagai meningkatnya taraf perekonomian?. Jawabannya tidak. Alasannya, Kuwait atau Uni Emirat Arab, yang perekonomiannya maju dan berkembang sebagaimana halnya negara-negara Eropa, seperti Swedia, belanda, Belgia, akan tetapi negara-negara Eropa itu mampu bangkit, sementara Kuwait dan Eni Emirat Arab tidak mampu bangkit.

Ada juga orang yang mengatakan kebangkitan erat kaitannya dengan meningkatnya perilaku akhlak. Kita lihat orang-orang madinah yang punya akhlak tinggi, tetapi tidak bangkit. Sedangkan orang paris yang terkenal rendah akhlaknya, akan tetapi mampu bangkit.

Oleh karena itu, kebangkitan adalah meningkatnya taraf pemikiran manusia.

Kebangkitan sebuah negara tidak jauh berbeda dengan kebangkitan manusia. Kebangkitan negara dapat di wujudkan dengan menegakkan pemerintahan yang didasarkan pada pemikiran ideologis. Dari pemikiran inilah keluar segala bentuk peraturan, perundangan, hukum sebagai solusi terhadap berbagai problematika negara. Seperti mata air yang tidak berhenti mengaliri sungai yang tidak pernah kering sampai kapanpun.

Penegakan negara yang berdasarkan pada perundangan dan hukum (Negara hukum), tidak mungkin mencapai kebangkitan. Negara macam ini akan kesulitan ketika mendapat persoalan-persoalan baru.

Eropa tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran. Yaitu pemisahan agama dengan Negara (sekulerisme), dan kebebasan. Begitu pula Amerika, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya di dasarkan pada susatu pemikiran, yaitu sekulerisme dan kebebasan. Rusia, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran, yaitu materi dan perubahan/evolusi materi. Yakni perubahan sesuatu dengan sendirinya dari suatu keadaan, ke keadaan lain yang lebih baik. Rusia menegakkan pemerintahannya pada tahun 1917 M (Red Revolution) yang didasarkan pada pemikiran semacam ini. Jadilah Rusia bangkit. Negeri Arab tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada pemikiran Islam. Ini tampak tatkala Rasulullah saw diutus dengan membawa risalah dari Allah. Di atas landasan ini di tegakkan pemerintahan dan kekuasaan. Arab dan Negara-negara futuhatnya pun bangkit selama berabad-abad lamanya.

Yang ingin saya tekankan adalah, semua argumen di atas menjadi bukti bahwa metode untuk mencapai kebangkitan sebuah negara adalah dengan menegakkan pemerintahan di atas suatu pemikiran.

Akan halnya Indonesia pada awal didirikannya banyak terjadi kompromi dan tarik-ulur politik antara beberapa aliran politik dan kepentingan di negeri ini. Kapitalisme, Komunisme dan Islam saling bersaing untuk mendapat tempat di pemerintahan. Belum lagi beragamnya ras, etnis, kepercayaan dan budaya yang ingin di persatukan. Sementara waktu sangat mendesak untuk sesegera mungkin mendirikan dan memproklamirkan sebuah negara.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada M. Yamin, Soepomo, Ir. Sukarno, M. Hatta yang tergabung dalam BPUPKI dan para founding fathers negeri ini, dilihat dari definisi dan pengertian ideologi itu sendiri, pancasila bisa dikatakan sebagai hasil ramuan dari tiga ideologi yang ada dan diilhami oleh konsep-konsep Barat seperti humanisme, rationalism, universalism, social-democracy, German national socialism, parliamentary democracy, republic, dan nationalism.

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa, merepresentasikan agama dalam pancasila. Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, merepresentasikan nilai hak asasi manusia atau humanisme yang secara sadar atau tidak, di-adopt dari liberalisme-kapitalis yang sedari awal mengajarkan kebebasan individu. Sila ketiga: Persatuan Indonesia, merepresentasikan perasaan nasionalisme. Sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, merepresentasikan demokrasi parlementer yang di-adopt dari sistem bernegara kapitalisme. Dan sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, merepresentasikan paham sosial ekonomi ala sosialis. Sumber: wikipedia.com

Sekali lagi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para founding fathers negeri ini dan kawan-kawan yang masih fully hoped with Pancasila. Jika saat ini pun kita ingin kembali kepada pengamalan Pancasila secara murni, saya katakan kita tidak akan mampu bangkit. Saya melihatnya dari dua sisi, pertama dari ajaran Pancasila itu sendiri dan kedua fakta sejarah.

Pertama, Pancasila yang walaupun diramu dengan susah payah dengan memasukkan berbagai unsur ideologi itu hanya akan menyebabkan benturan satu dengan lainnya. Satu contoh misalnya Sila Kemanusiaan (Universal Humanism) akan berbenturan dengan sila Keadilan Sosial (Social Justice). Sila Universal-Humanism mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kebebasan. Kebebasan ini dipraktekkan dalam kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku dan kebebasan kepemilikan. Dan dalam perjalanannya ketika ada suatu peraturan yang dinilai menghambat salah satu kebebasan diatas maka peraturan itu akan digugat karena telah melanggar HAM. Padahal didalam kebebasan kepemilikan terdapat dasar-dasar liberalisme ekonomi, dan ini bertentangan dengan semangat sila keadilan sosial.

Oleh karenya saya melihat Pancasila lebih kepada visi negara (Vision of State), yang mengandung value (nilai) dan vision (visi) yang hendak di raih dan diwujudkan oleh bangsa Indonesia saat berikhtiar mendirikan sebuah negara. Dari value dan vision itu lahirlah peraturan dan perundang-undangan guna menjawab berbagai persoalan berbangsa dan bernegara.

Kedua, dilihat dari sejarah di awal pancasila dipraktekkan oleh Presiden Soekarno juga tidak mampu membawa Indonesia kepada kebangkitan. Indonesia bahkan jatuh dalam krisis multidimensi tahun 60-an, Krisis ini memicu demonstrasi mahasiswa yang menuntut adanya perubahan politik-ekonomi waktu itu.

Apa yang terjadi dengan Indonesia tidak jauh berbeda dengan negara-negara seperti Turki dan Mesir. Gerakan Turki Muda pimpinan Mustafa Kamal─yang merupakan salah satu tokoh idola Bung Karno─pada tahun 1924 membangun pemerintahan di atas landasan peraturan dan perundang-undangan ala Barat sekuler untuk membangkitkan Turki. Ia menjalankannya sekuat tenaga, melalui tangan besi, akan tetapi gagal. Malah Turki menjadi terbelakang dari segi politik dan ekonomi sampai sekarang.

Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Gamal Abdunnaser di Mesir. Sejak tahun 1952 pemerintahannya dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Mesir berusaha mengadopsi peraturan-peraturan sosialis. Pertama memberntuk pemerintahan Republik menggantikan sistem kerajaan. Kemudian dilakukan land reform dengan membagi-bagikan lahan pertanian kepada rakyat. Tetapi sampai sekarang kebangkitan tidak pernah mampu diwujudkan. Malahan Mesir saat ini sudah termasuk negeri-negeri terbelakang dari segi pemikiran, ekonomi dan politiknya dibandingkan sebelum tahun 1952, yaitu sebelum kudeta militer.

Banyak lagi fakta sejarah yang dapat diambil sebagai pelajaran. Semua fakta itu menunjukkan bahwa untuk membangkitkan masyarakat saat ini adalah dengan mengadopsi suatu pemikiran dalam kehidupan, dan arah perjalanan kehidupan di dasarkan pada pemikiran ini. Pada saat yang sama dibangun pemerintahan memalui kekuatan umat, yang berdasarkan pada pemikiran tersebut.

Tinggal satu masalah lagi bagi negara ini jika ingin BANGKIT, yaitu pemikiran mana yang mau kita adopsi? Sosialis kah? Kapitalis kah? Atau Islam kah?. Satu hal yang perlu ditekankan bahwa kebangkitan itu bisa benar (shahih), juga bisa keliru. Amerika, Eropa dan Rusia ─misalnya─ adalah negara-negara yang bangkit, tetapi kebangkitannya tidak benar. Kebangkitan mereka akan menyengsarakan sebagian negara yang lain. Kebangkitan mereka berdiri di atas keringat dan darah rakyat negara dan bagnsa yain lain.

Semua itu karena kebangkitannya tidak didasari oleh asas yang bersifat ruhiy. Kebangkitan yang benar adalah meningkatnya taraf berfikir yang didasarkan pada asas ruhiy. Dan kebangkitan atas dasar ruhiy hanya di dapat pada pemikiran Islam. Jadi kebangkitan yang shahih itu hanya kebangkitan Islam. Karena hanya Islam sajalah yang berdasarkan asas ruhiy, menentramkan hati dan memuaskan akal.

Kebangkitan peradaban Islam inilah yang dinantikan semua orang, seperti yang di katakan oleh CEO Hewlett Pakard, Carly Fiorina :

I’ll end by telling a story.

There was once a civilization that was the greatest in the world.

It was able to create a continental super-state that stretched from ocean to ocean, and from northern climes to tropics and deserts. Within its dominion lived hundreds of millions of people, of different creeds and ethnic origins.
One of its languages became the universal language of much of the world, the bridge between the peoples of a hundred lands. Its armies were made up of people of many nationalities, and its military protection allowed a degree OF PEACE AND PROSPERITY THAT HAD NEVER BEEN KNOWN. The reach of this civilization’s commerce extended from Latin America to China, and everywhere in between.

And this civilization was driven more than anything, by invention. Its architects designed buildings that defied gravity. Its mathematicians created the algebra and algorithms that would enable the BUILDING OF COMPUTERS, and the creation of ENCRYPTION. Its doctors examined the human body, and found new cures for disease. Its astronomers looked into the heavens, named the stars, and paved the way for space travel and exploration.
Its writers created thousands of stories. Stories of courage, romance and magic. Its poets wrote of love, when others before them were too steeped in fear to think of such things.

When other nations were afraid of ideas, this civilization thrived on them, and kept them alive. When censors threatened to wipe out knowledge from past civilizations, this civilization kept the knowledge alive, and passed it on to others.

While modern Western civilization shares many of these traits, the civilization I’m talking about was the ISLAMIC WORLD from the year 800 to 1600, which included the Ottoman Empire and the courts of Baghdad, Damascus and Cairo, and enlightened rulers like Suleiman the Magnificent.

Although we are often unaware of our indebtedness to this other civilization, its gifts are very much a part of our heritage. The technology industry would not exist without the contributions of Arab mathematicians. Sufi poet-philosophers like Rumi challenged our notions of self and truth. Leaders like Suleiman contributed to our notions of tolerance and civic leadership.

And perhaps we can learn a lesson from his example: It was leadership based on meritocracy, not inheritance. It was leadership that harnessed the full capabilities of a very diverse population–that included Christianity, Islamic, and Jewish traditions.

This kind of enlightened leadership — leadership that nurtured culture, sustainability, diversity and courage — led to 800 years of invention and prosperity.

Subhanallah…

Mudah-mudahan kita dapat menyaksikan kembali peradaban yang agung itu kembali seperti janji Allah dalam hadis Rasulnya:

“Atas kehendak Allah, akan datang kepada kalian masa kenabian. Dan sungguh masa itu akan datang. Lalu, Allah mencabutnya, jika Ia telah berkehendak mencabutnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘Ala Minhaji al-Nubuwwah. Kemudian atas kehendak Allah datanglah masa itu. Lalu, Allah mencabutnya, jika Allah berkehendak mencabutnya. Kemudian datanglah masa raja yang “menggigit”. Maka datanglah masa ituatas kehendak Allah. Kemudian masa itu dicabut jika Allah berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian, datanglah masa pemerintahan yang “pemaksa/diktator”. Dan sungguh masa itu akan datang atas kehendak Allah. Kemudian Allah mencabut masa itu jika Ia telah berkehendak mencabutya. Kemudian datanglah, masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah), kemudian beliau saw diam.” H.R Ahmad. Insya Allah.


2 responses to “Repleksi Ideologi Indonesia dan Kebangkitan

  • RH

    Aww. ALLAHUAKBAR…!!!

    Yup, ana yakin ko’ ISLAM TEGAK DUNIA DAMAI”
    NaaaaaaH, msLHnya sKg tuuH, Gimana dgn Qta? Diem aja atw ikuT bersama berjuang Tuk kembalikan keJayaaN islam lagi, TuK mLanJutkan keHidupan islam lagi. Ayo pRens BANGKIT dan SONGSONG keJayaan IsLam Jang cuman diam berpanGku TanGaN, ikUt sana iKuT sini NGak tw aRaH t-7an. mo Jadi apa Qta ini nTi ?pRens, Disana SyuRga 4JJ1 mNanTi deRap LangKah kaKiMu. Ayo pReNs HiDuP cuMaN sKali, LakuKaNLaH yaNg PaLinG baik sTeLaH itu baRu maTi, So, peRsiapKan seJak diNi.

    SaLam siLaTuRRaHim dan UkHuwaH isLamiYaH sLL
    sManGaaaaaaaaaaat…4JJ AKBAR….!!!

    ana AL-FaqiRaH
    “RH”

    diBuMi paRa peCinTa kBeNaRaN kU bRaDa. 4JJ1 iZiNkaN HamBaMu ini TuK bJuaNg beRSama mReKa yaNg sLL ikHLasH dan RinDu RiDHoMu sMata.4JJ1 WaLau HaRTa dan NyaWa iNi sBaGai GanTinya, Ta’ mGaPa.

  • bayu

    Assalamualaikum….SEMANGAT…!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: