Pertanyaan: Bagaimana Bila Khilafah Berdiri di Indonesia?

Pertanyaan :

Seharusnyalah kita dalam membahas persoalan harus dengan konsisten atau tidak keluar dari pokok bahasan. Memang sih untuk konsistensi berpikir bahkan bertindak agak-agak susah untuk dijalankan. Suatu hari kita berpikir dan berteriak boikot produk israel (yahudi) tapi di hari lain kita minum Aqua dengan label DANONE. Menggunakan bedak untuk sang bayi dengan merk johnson&johnson’s… . Minum susu dengan produk dari perusahaan Nestle. (mohon maaf apabila ada yang tersinggung)

Berbicara tentang ideologi maka yang pertama kali harus dimengerti adalah “Apa sih Ideologi itu?” dan “Apa sih Agama itu?”. Menurut A. Dachlan Ranuwihardjo (Alm) : Ideologi adalah hasil proses pemikiran manusia yang telah disepakati bersama untuk dijadikan dasar negara dan diperuntukkan bagi golongan sebangsa serta memiliki sifat sementara. Beda halnya dengan agama, dimana agama merupakan wahyu Ilahi yang diturunkan kepada rasul melalui perantara malaikat Jibril dan memiliki sifat universal serta berlaku untuk selamanya.

Maka dari itu Pancasila bisa saja tergantikan oleh ideologi lain dan hal ini pun berlaku dengan agama apabila dijadikan ideologi.

Pancasila akan semakin jelas apabila diaplikasikan dengan jelas pula. Salah satu inti dari Pancasila adalah TRI SAKTI (Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya) itu tidak dijalankan sepenuhnya atau bahkan tidak sama sekali oleh pemerintah.

Saya bukannya tidak sepakat apabila Pancasila tergantikan karena itu memang wet-wetnya alam. Ketika Pancasila menjadi Thesa maka secara otomatis akan menghadapi hantaman antithesa hingga akhirnya melahirkan sinthesa. Hanya saja apakah yang akan dijalankan. Hanya saja yang menjadi pertanyaan besar saya apabila sistem khilafah diberlakukan di Indonesia :

1. Bagaimana dengan agama-agama lain yang ada di Indonesia?
2. Bagaimana kebudayaan bangsa Indonesia terutama Indonesia Timur?
3. Sistem khilafah apakah sistemnya kerajaan? Karena Raja Arab disebut dengan khalifah oleh rakyatnya.

Mohon maaf dengan petanyaan saya yang mungkin lugu dimata kawan-kawan.

Jawaban :

Oke..terima kasih Bung Hendra atas tanggapannya. Pertanyaannya sama sekali tidak lugu, malah saya sangat appreciate dengan orang yang kritis seperti Anda ini. Mudah-mudahan semakin kritis kita, semakin dekat kita kepada kebenaran. Saya akan coba nanggapi semampu saya..mungkin penjelasannya cukup panjang, jadi kalo mau baca bisa siapin kopi panas dulu biar ga ngantuk bacanya..hehehe jk.

Pertama-tama tentang pengertian ideologi. Ideologi yg saya pahami adalah pemikiran mendasar mengenai kehidupan yang melahirkan sistem. Apa saja pemikiran mendasar itu? Pemikiran mendasar itu antara lain berupa jawaban-jawaban atas pertanyaan mendasar pula, yakni:

1. DARI MANA MANUSIA, ALAM SEMESTA DAN KEHIDUPAN INI BERASAL?
2. UNTUK APA MANUSIA INI HIDUP DI DUNIA?, dan
3. ADA APA ATAU KEMANA SETELAH KEHIDUPAN DUNIA INI?.

Jawaban-jawaban yang khas atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas akan menentukan peraturan atau sistem atau norma yang dianut manusia dalam menjalani hidupnya.

Kita ambil contoh jawaban khas ideologi komunis misalnya, secara berurutan menjawab pertanyaan diatas dengan:

1. Matters/Materi,
2. Untuk memperoleh kenikmatan dunia,
3. Matters/Materi/Tanah.

Sebuah sistem kemudian terwujud manakala manusia saling berinteraksi. Manusia yang memiliki kesamaan dan bersepakat dalam sebuah keyakinan ideologi kemudian mewujudkan keyakinan mereka dalam bentuk aturan atau sistem. Dari jawaban-jawaban diatas tadi maka sistem yang di create dan di anut oleh masyarakat komunis adalah sistem atau BUATAN mereka sendiri, bukan sistem atau peraturan dari Tuhan, karena menurut mereka alam semesta beserta isinya, manusia dan kehidupan ini ada dengan sendirinya melalui proses evolusi materi. Dan dari keyakinan ideologi itulah lahir bentuk sistem bernegara khas ala komunis-sosialis, ekonomi sosialis, politik-pemerintahan, social, budaya, dan sebagainya.

Kemudian pertanyaannya, apakah pertanyaan mendasar tadi hanya dapat diraih melalui proses berfikir manusia tanpa ada kaitannya dengan agama?. Pada awalnya pure memang diperlukan proses berfikir rasional disertai bukti-bukti untuk memperkuat jawaban. Namun ketika jawaban diperoleh, akan ada kaitannya dengan keberadaan Sang Pencipta.

Dalam kaitannya dengan Islam, ternyata dapat diperoleh jawaban bahwa alam, manusia dan kehidupan ini adalah ciptaan Tuhan (Design Intelligent). Argumen ini bukan doktrin tanpa proses nalar, tapi mamiliki bukti-bukti kuat melalui proses penelitian yang panjang. Lebih lanjut mungkin bisa membuka situs ini: http://www.harunyahya.com. Konsekuensi dari argument ini ialah kita, manusia harus menjalani kehidupan sesuai dengan perintah & larangan Tuhan, jika manusia me-reject aturan Tuhan, konsekuensinya mendapat hukuman, baik hukuman syariat di dunia atau hukuman di akhirat nanti. Yang jelas setiap pengingkaran dan pelanggaran akan ada sanksinya.

Saya jadi teringat dengan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan: “Kewajiban pertama seorang muslim yang aqil baligh adalah ma’rifatullah (berfikir tentang keberadaan Allah)”. Dengan pemikiran yang jernih dan objektif, seseorang pasti akan mendapat petunjuk ke jalan yang benar.

– Lalu bagaimana apabila aturan Islam diberlakukan di Indonesia dalam bentuk Khilafah. Apakah tidak diskriminatif?.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya ajaran Islam itu bukan hanya ditujukan kepada ummat Islam saja tetapi juga untuk seluruh manusia. Dengan menerapkan syariat, maka rahmatan lil alamin, kesejahteraan dan ketentraman akan dirasakan seluruh rakyat.

Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk seluruh manusia (kaaffatan linnaas / as universal messenger to men), memberikan kabar gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak memahami. Q.S Saba’ : 28

Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. Q.S Al-Anbiya : 107.

Posisi non-muslim dalam Negara Khilafah adalah sama statusnya dengan muslim, yaitu sebagai warga negara. Tidak ada warga negara kelas 1, kelas 2 dst. Setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan dari negara, seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan secara cuma-cuma. Setiap warga negara juga memiliki hak yang sama dalam perekonomian. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum syari’at. Seorang warga negara non-muslim bahkan berhak untuk untuk menjadi anggota Majelis Syuro’ (semacam MPR dlm sistem demokrasi). Hanya kewajibannya saja yang berbeda. Seorang muslim secara syar’i diwajibkan untuk membayar zakat. Sedang non-muslim membayar Jizyah. Namun, apabila tidak mampu, seorang warga negara malah wajib disantuni oleh negara Khilafah. Adapun ketentuan seorang warga negara dapat disantuni sepenuhnya oleh negara dapat di baca disini.

Kita juga perlu mengingat sejarah bagaimana selama sekitar 14 abad Islam diterapkan dalam bentuk negara Khilafah dapat menaungi agama, bangsa, suku, ras, budaya yang beraneka ragam dalam satu keharmonisan sosial yang damai dan sejahtera. Sampai-sampai Carly Fiorina, CEO Hewlett Packard dalam sebuah pidatonya memuji sistem khilafah dengan sebutan the greatest civilization in the world. Text lengkap pidatonya bisa dilihat disini.

– Bagaimana Islam menyikapi keber-anekaragaman agama?. Berdasarkan al-qur’an dan hadis nabi serta jika melihat kembali sirah nabi, ketika Negara Khilafah tegak, agama-agama di luar Islam akan tetap ada dan tidak ada larangan orang memeluk agama selain Islam, begitu pula tidak ada pemaksaan dalam hal beragama. Laa ikro ha fiddiin… (Tidak ada paksaan dalam agama). Q.S Al-Baqoroh : 256. Hanya tentu saja tidak boleh menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama. Dan ketika seorang non-muslim berada di area publik, ia wajib mengikuti aturan publik (syari’at) seperti menutup aurat, tidak maksiat dan tidak berkhalwat (bercampur) antara laki-laki dan perempuan.

– Bagaimana menyikapi kebudayaan Indonesia timur?. Kebudayaan yang dimaksud mungkin terkait dengan tatacara berpakaian masyarakat suku tertentu. Kalau memang memakai pakaian− maaf−seperti koteka adalah ajaran agama, ya silahkan saja. Tetapi apabila budaya itu tidak ada kaitannya dengan agama, maka kebudayaan tersebut secara bertahap akan diperbaiki.

– Apakah Khilafah = kerajaan?.
Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menerapkan seluruh syari’at (hukum-hukum) Islam. Khalifah/Sulthan/Amirulmu’minin adalah pemimpin tertingginya. Khilafah tidak menganut Nasionalisme yang wilayahnya cenderung statis. Dakwah dan jihad adalah prinsip politik luar negerinya. Sehingga sering dijumpai dalam sejarah Islam peristiwa pembebasan-pembebasan suatu daerah oleh pasukan Khilafah. Tujuannya bukanlah seperti penaklukan ala kapitalisme yang eksploitatif, tetapi untuk membebaskan umat manusia dari ketundukan terhadap hukum selain hukum Allah.

Dalam sistem Khilafah, kedaulatan tertinggi di tangan Allah (syari’at). Sedang kekuasaan, berada di tangan ummat. (Berbeda dengan demokrasi yang keduanya berada di tangan umat/rakyat). Berbeda juga dengan monarki absolut ataupun monarki konstitusional dimana raja cenderung tidak tersentuh hukum.

Khilafah bukanlah kerajaan sekalipun ia menerapkan sebagian hukum Islam. Khilafah juga bukan berbentuk teokrasi atau autokrasi. Dalam sistem Khilafah, kedaulatan tertinggi adalah hukum syari’at. Sedang dalam kerajaan, kedaulatan tertinggi di tangan raja.

Khilafah tidak berbentuk federasi, persemakmuran (commonwealth), tetapi berbentuk kesatuan (union). Pemerintahannya berbentuk sentralisasi, sedangkan administrasi atau birokrasinya menganut sistem desentralisasi.

Khalifah diangkat dalam rangka menerapkan hukum-hukum Allah di muka bumi, jika khalifah berbuat zhalim sampai pada titik dimana kesalahannya tidak dapat di toleransi syara’ atau khalifah telah kehilangan salah satu syarat sahnya sebagai khalifah, maka Mahkamah Madzolim dapat memberhentikannya. Mahkamah Madzolim adalah institusi pengadilan dalam Islam yang tugasnya menyelesaikan perselisihan antara Khalifah dan aparat pemerintahannya dengan rakyat.

Metode pengangkatan seorang Khalifah adalah dengan bai’at, berbeda dengan kerajaan dengan menurunkan kekuasaan kepada keturunan raja. Dalam sistem Khilafah, siapapun yang memenuhi syarat kelayakan dan kepatutan dapat dipilih menjadi seorang Khalifah.

Mengenai interaksi ekonomi saat ini kita dihujani oleh produk-produk kaum kapitalis atau yahudi, paling tidak bisa bisa kita kembalikan kepada hukum asal suatu benda yang kita konsumsi. Kaidah fiqh menyatakan: “Al-ashlu fil asya’ ibahah ma lam yariddalilu tarhim” (Hukum asal suatu benda adalah mubah/boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya). Lalu, bagaimana hukumnya misalnya meminum air Aqua miliknya Danone corp. yang notabene perusahaan kapitaslis?. Kita kembalikan saja kepada hukum asal air itu sendiri, yaitu mubah. Rasul juga pernah berinteraksi ekonomi (jual-beli) dengan kaum kafir quraish sementara pada waktu itu terjadi persaingan politis-ideologis antara mereka. Tetapi ketika kita memiliki tujuan tertentu misalnya menghancurkan pasaran produk-produk mereka, menghindari memakai produk-produk tadi boleh-boleh saja, asalkan tidak mengatakan kalau produk yang hukum asal-nya halal seperti Aqua, menjadi haram.

Kami sendiri tidak pernah menggunakan cara-cara boikot sebagai metode perjuangan. Karena kami memandang persoalan utama umat sekarang ini adalah tidak diterapkannya hukum syariat, yang itu membuat kita semua berdosa sebelum ada yang memperjuangkannya. Tidak menerapkan syariat juga membuat kita semakin terperosok ke jurang kehinaan dan kegelapan hidup. Dan karena masalah menerapkan syariat melalui penegakan Khilafah itu adalah masalah politik, maka metode yang ditempuh adalah metode politik juga dan tanpa kekerasan. Demikian. Wallahua’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: